Seringkah dalam kehidupan sehari-hari, kita merasa ada satu atau beberapa
orang yang begitu mencintai, menyayangi serta memperhatikan kita? Eitss..tunggu
dulu, benarkah yang anda rasakan itu benar-benar cinta yang tulus dan tanpa syarat?

Kadang kita merasa sudah benar-benar diperhatikan dan dicintai oleh kekasih,
teman atau mungkin sahabat kita. Tapi coba perhatikan lagi di saat-saat seperti apakah
mereka memberi perhatian pada kita? Di saat sukacita kah? Di saat kita memiliki
banyak rejeki kah? Di saat tidak ada permasalahan yang berat kah? Di saat arus
kehidupan kita sedang di atas kah?

Apakah itu yang dimaksud dengan perhatian dan kasih yang tulus? Anda merasa
bahwa mereka sudah cukup memahami anda dengan segala seluk beluk dan
kekurangan anda, namun apakah mereka benar-benar mengerti apa makanan
kesukaan anda? Hal apakah di dunia ini yang paling anda benci? Kapankah situasi
terburuk dalam hidup anda? Bagaimana hubungan anda dengan orang tua?
Bagaimanakah masa kecil anda dulu? Apa luka hati terdalam anda?

Di sinilah kasih sayang yang tulus benar-benar diuji, dimana ketika anda berada
dalam situasi terberat dan tergelap anda, ada seseorang yang masih bersedia berdiri di
sana untuk anda, memberikan anda support dan dukungan terbaiknya, bahkan
mengorbankan kepentingannya sendiri demi anda.

Cinta yang tulus terlihat ketika anda berada dalam sisi tergelap hidup anda,
bukan ketika anda bersenang-senang, ketika berpesta ulang tahun, dsb. Ketika melihat
dan mengetahui kondisi terburuk anda pun, bahkan kebiasaan terburuk anda sekalipun,
dia tetap berada di samping anda untuk memberikan dukungan terbaiknya.

Jadi teman-teman sekalian, cinta yang tulus bukanlah omongan manis atau
rayuan puji-pujian yang keluar dari bibir seseorang terhadap anda, tapi cinta tertulus
biasanya adalah seseorang yang berani mengatakan kalau anda salah, berani
memberitahukan dimana letak kekeliruan anda, bukan justru membenarkan semua
sikap dan perilaku kita, tapi tetap memberikan bahunya ketika kita jatuh dan menangis,
dan memberikan telinganya mendengarkan segala permasalahan kita.

Jika selama ini anda masih merasa begitu dicintai, coba cek sekali lagi, betulkah
itu adalah cinta? Atau hanya ilusi semata?
Kita sering berpikir seseorang yang sering mengajak kita keluar makan malam
atau menonton adalah orang yang menyayangi dan memperhatikan kita, tapi apakah
ketika anda berada dalam sebuah kesulitan seperti konflik keluarga atau kehilangan
harta benda, orang tersebut tetap ada di sana menghibur anda dan mengeluarkan
segenap usahanya untuk membuat anda tersenyum kembali? Atau apakah ia hanya
diam saja kemudian perlahan-lahan menjauh dari kehidupan anda ketika anda sudah
tidak memiliki apa-apa lagi?

Upss.. ironis sekali ya hidup ini, memang dimana ada gula di sana pasti ada
semut.. itulah ironi kehidupan yang harus kita pahami dan hadapi bersama. Namun di
atas semuanya itu, anda masih punya pilihan apakah mau tetap mempercayai cinta
semu atau betul-betul mencari cinta sejati dengan menyingkirkan semua ilusi-ilusi
tersebut?

Karena kasih sayang yang tulus bukan hanya sepihak, dan bukan hanya
memberi, namun bersifat take and give, dan semuanya berkaitan dengan
keseimbangan antara kedua belah pihak. Nah sudahkah cinta anda selama ini
seimbang? Atau pincang sebelah?

Cinta sejati seharusnya memberikan sayap kepada orang yang dicintai untuk
terbang bebas mencapai cita-citanya, bukan justru menahannya di tempat untuk anda
miliki dengan cinta yang egois. Namun ketika anda membutuhkan ‘rumah’, anda tahu
bahwa anda tetap bisa berpulang kapanpun anda inginkan.

Perhatikanlah apakah hubungan anda saat ini dengan orang-orang terkasih
hanyalah bersifat kuantitas (sering bertemu tapi tidak berkualitas) belaka? Atau
memang anda benar-benar merasa diperhatikan dan dipedulikan secara emosional dan
psikologis? Karena ketika kebutuhan emosional ini terpenuhi, orang-orang tidak perlu
lagi sibuk mencari kasih sayang dan pengakuan dari hal-hal di luar dirinya seperti
gadget, harta berlimpah, rumah dan mobil mewah.

Karena sejatinya cinta yang tulus berada di dalam hati setiap manusia, dan
bukan didapatkan dari hal-hal di luar diri kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here